Bagai Uap

Mengapa engkau begitu lusuh?

Tulang-tulangmu begitu gemetar

Tak ada yang menopangmu

Bahasamu bagai uap

Yang akhirnya lenyap

Kemanakah cahaya matamu?

Cahaya terang yang hanya terlihat ketika pudar

Yang dipuja ketika hampir hilang

Yang digenggam ketika melayang

Semua penyair memujamu dengan penanya

Engkau begitu berbekas

Bagai uap

Uap

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Puisi. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s