Narkoba

Tindak pidana mengenai narkotika kita kenal sebagai sebuah kejahatan yang sangat terorganisir dan sangat merusak sebuah bangsa. Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang 35 tahun 2009, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Diaspora penyebaran narkoba juga semakin hari sangat mengkhawatirkan, berdasarkan penuturan Komjen Pol Budi Waweso yang adalah Badan Narkotika Nasional (BNN), hingga November 2015 ada 5,9 juta orang yang merupakan pengguna narkoba.[1] Indonesia juga merupakan target dari bandar narkoba asing karena besarnya jumlah masyarakat Indonesia. “Sepanjang masih ada pengguna, pengedar, dan pasar, maka barang akan terus berusaha masuk ke Indonesia”, tutur Jenderal Sutarman.[2]

Dampak dari penggunaan narkoba juga cukup fatal karena dengan sulitnya mendapatkan jarum suntik, para pengguna narkoba biasanya menggunakan jarum suntik tersebut secara bergantian yang akan dapat menyebabkan mereka dapat terkena HIV/AIDS. Data dari WHO menyebutkan bahwa penggunaan jarum suntik yang tidak steril merupakan salah satu penyebab tertularnya penyakit HIV dan AIDS pada seseorang.

Selain rentannya pengguna narkoba terhadap HIV/AIDS, pengguna narkoba juga rentan terhadap penyakit hepatitis, gangguan mens terhadap wanita, penyakit jantung, gangguan lambung, dan daya tangkap otak menjadi lemah.[1] Secara khusus mengenai melemahnya otak, terdapat studi dari Addiction Science Clinical Practice yang menggunakan teknologi PET scan menunjukkan bahwa penyalahgunaan metafitamin dapat menyebabkan produksi metafitamin dalam otak diproduksi secara berlebihan secara sementara, tetapi kemudian hal itu akan menyebabkan tingkat dopamine di dalam otak menurun, sehingga menyebabkan menurunnya daya ingat dan motorik seseorang.

Selain memiliki dampak buruk terhadap kesehatan, penyalahgunaan zat psikotropika ini juga memiliki kaitan dengan penyelundupan, perdagangan manusia, dan pornografi. Ketiganya merupakan sebuah spektrum yang saling berkaitan. Berdasarkan hasil penelitian, perdagangan perempuan dalam kejahatan narkotik memang memiliki keterkaitan yang erat, karena telah ditemukan bahwa perempuan-perempuan yang terlibat dalam kasus narkotika telah diberikan janji kosong dan dikirim ke luar negeri dengan berbagai tipuan.[1]

Hal yang patut disayangkan adalah ketika para perempuan yang telah dijadikan korban perdagangan manusia dan kurir narkoba ini tertangkap, mereka dijatuhi hukuman mati. Oleh karena itu hendaknya para aparat penegak hukum lebih cermat dalam menangani kasus ini dan melihat melampaui kotak Berita Acara Perkara (BAP) Kepolisian dan hukum positifistik dan mendekatkan kasus-kasus demikian kepada wawasan HAM. Kembali mengenai hukuman mati, berdasarkan Undang-Undang 35 tahun 2009 sendiri, hukuman mati dapat diberikan atas dasar:

  • Memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I (Pasal 113(2));
  • Menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram (Pasal 114(2)).
  • Penggunaan narkotika terhadap orang lain atau pemberian Narkotika Golongan I untuk digunakan orang lain mengakibatkan orang lain mati atau cacat permanen (Pasal 116(2)).

Kasus yang cukup terkenal terkait hal ini adalah kasus mengenai Mary Jane yang cukup menarik perhatian. Pasalnya ia merupakan korban perdagangan manusia yang dimanfaatkan jaringan bandar narkoba di Filipina untuk menyalurkan heroin seberat 2,6 kg yang berbuntut hukuman mati terhadap dirinya oleh Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta. Majelis hakim PN Sleman seharusnya dapat melihat suatu kasus di luar BAP yang dibuat oleh kepolisian, khususnya kasus yang menyertakan hukum mati yang menyangkut nyawa manusia.

Hukum harus ditegakkan meski langit runtuh (fiat justitia ruat coeleum) memang harus tetap dipegang teguh, tapi kita juga harus melihat apakah hukum yang ditegakkan itu merupakan berada di sisi fair play atau tidak.

Metode rehabilitasi terhadap kurir dan pemakai harus dikedepankan sebagai sarana pemulihan, karena tidak setiap pemakai narkoba merukapan pelaku dari kejahatan itu sendiri, kebanyakan dari mereka merupakan korban dari sindikat peredaran narkoba.

[1] Sulistyowati Irianto, 2005, Perdagangan Perempuan Dalam Jaringan Peredaran Narkotik, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, halaman 3.

[1] Heriadi Willy, S.H, Berantas Narkotika Tidak Cukup Hanya Bicara (Tanya Jawab dan Opini), Keaudalatan Rakyat – Yogyakarta, 2005, halaman 23.

[1]http://regional.kompas.com/read/2016/01/11/14313191/Buwas.Pengguna.Narkoba.di.Indonesia.Meningkat.hingga.5.9.Juta.Orang  (diakses pada tanggal 13/09/2016 – jam 14.00)

[2] http://www.cnnindonesia.com/nasional/20141010161557-12-6043/indonesia-masih-jadi-tujuan-bandar-asing/  (diakses pada tanggal 13/09/2016 – jam 14.17)

[3] http://www.huffingtonpost.com/ana-davila/drug-cartels-where-human-trafficking-and-human-smuggling-meet-today_b_7588408.html (diakses pada tanggal 13/09/2016 – jam 14.22).

[4] http://www.unodc.org/unodc/en/frontpage/2012/July/human-trafficking_-organized-crime-and-the-multibillion-dollar-sale-of-people.html (diakses pada tanggal 13/09/2016 – jam 14.24).

[5] http://nasional.kompas.com/read/2016/07/28/15085981/ini.14.terpidana.mati.yang.bakal.dieksekusi. (diakses pada tanggal 13/09/2016 – jam 14.30).

[6] http://www.ted.com/talks/david_r_dow_lessons_from_death_row_inmates

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s