Direncanakan Lebih Dahulu (met voorbedachte rade)

Baru-baru ini heboh terdengar tentang hasil sidang dari Putusan Sidang Jessica Wongso yang menyatakan bahwa Jessica Kumala Wongso terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan pembunuhan berencana dengan ancaman pidana 20 tahun berdasarkan kepada Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Jika kembali melihat kepada putusan yang dibacakan oleh hakim, unsur-unsur yang dipaparkan oleh hakim dalam putusannya adalah tentang kesengajaan yang akhirnya merujuk kepada mengetahui dan menghendaki (opzet willens en weten). Hal tersebut juga terkait kepada perbuatan sengaja yang telah direnungkan terlebih dahulu (dolus premeditatus). Selanjutnya menurut hakim karakteristik Pasal 340 KUHP adalah:

  1. Pelaku memutuskan kehendak dalam keadaan tenang;
  2. Ada jangka waktu yang cukup antara keputusan kehendak dan pelaksanaa kehendak;
  3. Pelaksanaan kehendak dilakukan dalam keadaan tenang.

Menurut saya majelis hakim dalam menentukan apakah ada niat (opzet: kesengajaan kehendak) pada diri terdakwa sangat tidak dapat dipercaya (reliable). Dalam proses persidangan bahkan tidak dapat dibuktikan secara jelas dalam CCTV bahwa benar Jessica yang memasukkan racun ke dalam kopi korban. Apakah landasan hakim hanya didasarkan pada asumsi bahwa Jessica menggaruk-garuk tangannya dan pahanya pada saat itu, kemudian dikaitkan dengan zat sianida (naCN) yang dapat menyebabkan iritasi ketika terkena kulit, lalu pelakunya adalah Jessica? Menurut saya sangat tidak masuk akal. Bahkan Nursamran Subandi, ahli toksikologi dari Labfor Polri Kombes, mengatakan begini ketika ditanya oleh hakim Binsar Gultom, “Dari layar terlihat bagaimana Jessica menggaruk tangannya. Apakah itu akibat daripada serbukan atau bagaimana“, jawab Nursamran Subandi:

Saya ini scientist, saya ini polisi. Saya katakan yang benar itu benar, yang salah adalah salah. Tapi saya tidak bisa katakan gatal karena itu (sianida), karena dia menggaruk, tidak bisa dikatakan (sebabnya) itu semata.

Proses pembuktian di depan persidangan juga cenderung kabur/tidak jelas. Konstruksi hukum yang dinyatakan hakim sebagai motif, menurut saya, sangat mengambang. Bagaimana bisa motif seseorang melakukan pembunuhan dikaitkan dengan orang tersebut sedang memiliki masalah dengan mantan pacarnya, sering mabuk-mabukan, dsb. Konstruksi yang seperti ini menurut saya sangat rapuh, mungkin hal ini disebabkan karena hakim tidak boleh menolak perkara yang menjadi dasar teori lahirnya metode konstruksi hukum.

coffee

Berdasarkan Pasal 183 jo. 184 (1), (4) KUHAP hakim menyatakan telah mendapatkan dua alat bukti yang dijadikannya dasar untuk mengambil keputusan. Saya tidak katakan ini salah, putusan hakim terkait hal ini menurut hukum acara pidana di Indonesia seluruhnya sudah benar, tetapi menurut saya ada hal-hal yang belum jelas. Baik mengenai pembuktian opzet, alat bukti, dan hal yang merujuk langsung kepada Jessica sebagai pelakunya. Jika hanya didasarkan pada asumsi, pemidanaan jelas tidak dapat dilakukan hanya dengan berdasarkan itu. Jadi harus ada bukti yang cukup kuat yang menyatakan seterang-terangnya bahwa Jessica yang melakukannya, baik dari sidik jari, atau apa pun yang langsung menunjuk kepada Jessica, bukan karena Jessica itu sering mabuk-mabukan, datang ke Indonesia karena ada masalah di Australia, sehingga ia membunuh.

Een actor heeft doelopzet op het veroorzaken van een gevolg als hij
handelt omdat hij wenst dat het gevolg intreedt en voorziet dat zijn
handeling het gevolg kan veroorzaken

Een actor heeft zekerheidsopzet op het veroorzaken van een gevolg
als hij handelt terwijl hij met een grote mate van zekerheid voorziet
dat zijn handeling het gevolg zal veroorzaken.

Een actor heeft kansopzet op het veroorzaken van een gevolg als hij
handelt terwijl hij voorziet dat een aanmerkelijke kans bestaat dat
zijn handeling het gevolg zal veroorzaken.

An actor has intentionally aim at producing a result as he acts because he hopes that arises due and provides that action may cause the result.

An actor has certainty intent on producing a result
if he acts as he provides for a high degree of certainty
that its operation will cause the result.

An actor has a chance intent on producing a result as he
acts while he anticipates that a significant risk exists that
his action will cause the result.

Sebaiknya tentukan lebih dahulu apakah benar willen en weten yang dinyatakan itu aktrisnya adalah Jessica. Hakim tidak bisa menyatakan bahwa Jessica berniat (intended) untuk melakukan pembunuhan berencana hanya karena ia datang lebih awal. Hakim harus melihat:

  • Dimanakah barang bukti racun sianida yang disediakan (provided) Jessica untuk melakukan hal yang secara sengaja dia lakukan sehingga hasil yang ia harapkan tercapai dan muncul;
  • Bagaimana rencana Jessica untuk melakukan pembunuhan berencana tersebut, sehingga hasil operasi kegiatannya berada pada tingkatan tidak akan gagal;
  • Bagaimana antisipasi Jessica seandainya rencananya ketahuan.

Sekali lagi, ini hanya argumen dan pendapat saya. Jika pendapat saya salah, maka mohon dimaafkan dan diberikan pendapat lain. Jesus Christ, my Lord and Saviour, bless you.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hukum. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s