Penistaan Agama (Pasal 156a KUHP)

Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:

  1. Yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
  2. Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa

Jika dilihat pada konteksnya, unsur tindak pidana (straafbar feit) penistaan yang dimaksud pada Pasal 156a KUHP adalah:

  • Unsur subyektif:
    • Orang yang mampu bertanggungjawab.
    • Kesengajaan (dolus)/ kelalaian (cupla).
  • Unsur Obyektif:
    • Perbuatan orang: Perbuatan yang bersifat permusuhan penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa
    • Akibat kesalahan tersebut;

Dalam sistem hukum common law yang dianut oleh negara Inggris misalnya (meski indonesia juga tidak sepenuhnya menganut sistem hukum civil law), sebuah tindakan penistaan diartikan sebagai berikut

“to constitute blasphemy at common law there must be such as element of vilification, ridicule or irreverence as would be likely to exasperate the feelings of others and so lead to a breach of the peace”, (Lord PARKER p. 446) that words
may be blasphemous “for their manner, their violence, or ribaldry, or, more fully stated, for their tendency to endanger the peace then and there, to deprave public morality generally, to shake the fabric of society, and to be the cause of civil strife”

Early Journal Content on JSTOR

Silahkan dengarkan kembali dengan teliti adakah pernyataan dari video Ahok yang dikatakan sebagai sebuah tindakan penistaan. Menurut saya secara unsur pidana Ahok tidak dapat dikenakan pasal 156a KUHP karena dia tidak bermaksud untuk membuat seseorang tidak menganut agama yang resmi di Indonesia. Lagi pula menurut saya tidak ada unsur kebencian dari perkataan Ahok tersebut. Jika sekarang orang ramai-ramai ribut, itu kan akibat pemotongan video yang ditujukan pada perkataan tertentu yang bisa membuat orang multitafsir.

Memang kedamaian sepertinya terusik oleh karena perkataan Ahok yang kontroversial itu, tapi apakah hal itu mengusik orang-orang yang berada di Pulau Seribu pada saat perkataan itu diucapkan? Ini hanya argumen saya, silahkan jika ada pemikiran lain. God bless you.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Hukum. Tandai permalink.